High Level Panel Discussion on Low Carbon Development & Green Economy

access_timeOct 14, 2018
High Level Panel Discussion on Low Carbon Development & Green Economy bersama Menteri PPN/ Kepala Bappenas

Kamis 11 Oktober 2018, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas bekerjasama dengan berbagai mitra pembangunan, diantaranya Embassy Of Denmark, Embassy Of Germany, UKaid, USAID, JICA, GIZ, NICFI (Norway’s International Climate and Forest Initiative), WRI Indonesia, Global Green Growth Institute, The New Climate Economy, ICCTF, The World Bank, World Agroforestry, IIASA (International Institute for Applied System Analysis), DANIDA, Sekretariat GRK, Sekretariat RAN API, Institut Teknologi Bandung, PT. Sarana Prima Data dan System Dynamics Bandung Bootcamp menyelenggarakan High level panel discussion on Low Carbon Development & Green Economy. Kegiatan ini merupakan parallel event dari International Monetary Fund-World Bank Annual Meetings 2018 yang diselenggarakan di Hotel Inaya Putri, Nusa Dua Bali yang dihadiri berbagai tokoh nasional dan internasional yang concern terhadap pembangunan berkelanjutan, diantaranya: Prof. Dr. H. Boediono M.Ec (Wakil Presiden Indonesia ke-11), Mari Elka Pangestu (Mantan Menteri Perdagangan Indonesia), Lord Nicholas Stren (LCDI Commissioner), Matthew Rycroft (UK Permanent Secretary), Frank Rijsberman (Director General, Global Green Growth Institute), Naoko Ishii (CEO the Global Environment Facility), Paul Polman (CEO Unilever), Helen Mountford (Direktur Ekonomi, World Resource Institute), Victoria Kwakwa (Wakil Presiden World Bank untuk Asia Timur dan Pasifik),Remy Rioux (CEO Agence Francaise de Developpement), Shinta Kamdani (Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development), Luis Miguel Castilla Rubio (Manager Inter-American Development Bank), Frank Rijsberman (Direktur Global Green Growth Institute).

deket.jpg

Sambutan Menteri PPN/ Kepala Bappenas Prof. Bambang Brodjonegoro dalam pembukaan High Level Panel Discussion on Low Carbon Development & Green Economy

Disamping melakukan peluncuran inisiatif pembangunan rendah karbon Indonesia, kegiatan ini juga bertujuan untuk bertukar pengalaman mengenai tantangan, peluang, dan pendekatan inovatif dari negara lain dan entitas bisnis dalam memprioritaskan strategi dan tindakan menuju pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau. Kemudian untuk menunjukkan upaya dan dampak berbasis bukti yang sedang berlangsung oleh pemerintah Indonesia dan skema dukungan yang disediakan oleh lembaga multilateral, sektor swasta, dan organisasi non-pemerintah, melihat pengalaman dan inovasi dari Indonesia dan negara berkembang lainnya. Kemudian untuk meningkatkan pemahaman tentang kebijakan dan strategi pembangunan rendah karbon serta tindakan yang telah dilakukan Indonesia.

10789630432_IMG_4924.JPG

Suasana sambutan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Bambang Brodjonegoro

Acara dibuka oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Bambang Brodjonegoro dimana dalam sambutannya beliau menekankan tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia bila perencanaan pembangunan ke depan masih bersifat business as usual, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan turun menjadi kurang dari 4% pada tahun 2045. Beliau menambahkan kebijakan berbasis rendah karbon perlu diimplementasikan untuk meningkatkan kualitas lingkungan, dengan memperhatikan prioritas pembangunan pada sektor-sektor unggulan yaitu dengan tetap meningkatkan produktivitas pertanian, meningkatkan penggunaan energi terbarukan, serta diperlukannya kebijakan reforestasi dan mengurangi deforestasi termasuk restorasi gambut. Beliau menegaskan dalam sambutan pembukaannya “LCDI and green economy will be at the heart of Indonesia policy implementation”. Acara dibuka dengan peluncuran laporan Low Carbon Development in Indonesia (LCDI); peluang dan tantangan Indonesia dalam pembangunan yang mempertimbangkan manfaat bagi ekonomi, masyarakat dan lingkungan yang dibingkai dalam Visi Indonesia 2045. Laporan versi final akan diluncurkan pada Maret 2019.

Dialog sesi pertama mengangkat tema “Moving Toward Low-Carbon and Climate-Resilient Growth” dengan menghadirkan Prof. Boediono, Marie Pangestu, Paul Polman, Ngozi Okonjo-Iweala, Naoko Ishii, dan Helen Mountford sebagai panelis yang dimoderatori oleh Prita Laura. Sesi ini fokus membahas prioritas nasional dan sektoral serta tantangan untuk membiayai pembangunan rendah karbon. Sesi ini meringkas temuan utama dari Laporan LCDI, mengidentifikasi area peluang untuk aksi iklim, merangkum manfaat sosial dan ekonomi yang terkait dengan kebijakan karbon rendah, dan menyoroti peran yang akan dimainkan oleh sektor pemerintah dan swasta.

Dialog sesi kedua dengan tema “Investment Opportunities in a Low-Carbon Economy” dengan fokus pembahasan pada praktik baik proyek-proyek hijau inovatif yang sudah berlangsung di Indonesia yang fokus pada mekanisme pembiayaan hijau, dan menjawab permasalahan seperti implementasi terbaik dalam pembiayaan proyek green carbon rendah, bentuk pengendalian kualitas dan mekanisme yang paling efektif dalam menciptakan proyek hijau yang dapat dipasarkan, serta bagaimana pengembang proyek dapat mengakses pendanaan hijau. Sesi ini diisi oleh beberapa panelis, diantaranya Wordy Hashim Adbullahi (Kementerian Lingkungan Hidup, Hutan & Perubahan Iklim Ethiopia), Victoria Kwakwa (Wakil Presiden World Bank untuk Asia Timur dan Pasifik), Remy Rioux (CEO Agence Francaise de Developpement), Shinta Kamdani (Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development/ IBCSD), Luis Miguel Castilla Rubio (Manager Inter-American Development Bank), dan Frank Rijsberman (Direktur Global Green Growth Institute).

10789340720_IMG_4957.JPG

Menteri PPN/ Kepala Bappenas dan Frank Rijsberman (Direktur Global Green Growth Institute) memberikan keterangan pers mengenai perencanaan pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau dalam RPJMN 2020-2024

Sebagai salah satu mitra dalam pengembangan kebijakan LCDI, Sekretariat RAN API melalui kaji ulang RAN API terlibat aktif dalam pengembangan model dan skenario kebijakan dengan mengintegrasikan berbagai hasil kajian proyeksi iklim, potensi bahaya dan dampak perubahan iklim pada berbagai sektor pembangunan. Sebagaimana diketahui pengintegrasian ketahanan iklim merupakan upaya tetap menjaga target pembangunan melalui aksi adaptasi perubahan iklim.

10789619680_IMG_4946.JPG

Direktur Governance & Corporate Secretary Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso mendengarkan penjelasan proyeksi potensi bahaya perubahan iklim di masa depan oleh Kepala Sekretariat RAN API Putra Dwitama

Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi besar untuk pembangunan Indonesia dalam melaksanakan perencanaan pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau dan diharapkan menjadi masukan dalam penyusunan RPJMN 2020-2024.

menu
menu